Selamat berjuang teman-teman OuterinterX!
Selamat mengundi pada para apresiator dan kolektor!


oleh Penulis Tamu, Issarezal Ismail

Menyingkap kembali praktis seni rupa kontemporer generasi muda sekitar ibu kota Malaysia pada tahun-tahun kebelakangan ini sungguh mengangkat kening banyak orang. Menarik sekali untuk mengamati karya-karya para perupa muda ini khususnya yang mengambil keputusan untuk memperuntukkan masa 24-7 bagi menyalurkan kegelisahan dan ketegangan artistik masing-masing dengan berbagai bentuk, cara, jenis, dan corak ungkapan. Nah! Pada kali ini kita diperhadapkan dengan sekumpulan karya seni dari lima perupa muda yaitu Al-Khuzairi Ali, Haris Abadi, Fadly Sabran, Syafiq Ali’am, dan Abd Latif Padzali dengan judul pameran yang dipilih yaitu Outerinter X.

Sebagai pengamat yang amat berminat untuk mengetahui perkembangan praktis seni rupa kontemporer generasi muda Malaysia, saya sempat beberapa kali bertemu dengan anak-anak muda ini beberapa bulan yang lalu. Ada di antara mereka ketika itu sedang menjadi artisan bagi para perupa yang lebih senior; ada di antara mereka itu saya datangi studio merangkap tempat tinggal yang kurang lebih saya anggap beruntung dari kebanyakan nasib perupa muda di Indonesia; dan, ada di antara mereka itu saya jumpa ketika mereka lagi sibuk menguruskan galeri tempat mereka mencari nafkah bulanan. Pun begitu, di sela-seli keterbatasan ruang dan waktu yang saya peroleh, saya bisa katakan bahwa anak-anak muda ini sememangnya menjanjikan sesuatu pada wilayah seni rupa kontemporer Malaysia.

Ketika di minta untuk menulis pengantar ini, saya telah menerima satu tulisan kuratorial bersama-sama dengan beberapa gambar karya seni dari pameran ini. Dari berbagai-macam perkara yang menarik yang dimunculkan, saya amat tertarik dengan cara kuratornya mendefinisikan istilah Outerinter X yang menurutnya:

“Outerinter X adalah gabungan dari perkataan outer, inter, dan x. Outer membawa makna satu keinginan dalam menghasilkan karya di luar kitaran konvensional seni rupa kontemporari di Malaysia; Inter pula membawa maksud cubaan mendapatkan ruang untuk berinteraksi dalam konteks seni rupa; manakala X merupakan kebarangkalian kepada xplorasi, xpresi, xperimen, xfaktor, dan segala kemungkinan yang bermula dengan x yang dilihat dari sudut positif.”

Arham Azmi, 2009: Pengantar kuratorial pameran Outerinter X


Dari pendefinisian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa orientasi pameran ini bukanlah hanya membicarakan karya seni sebagai objek kontemplasi estetik, tetapi ia turut melibatkan seluruh gerak kerja seni dari masalah bentuk (karya), ruang (galeri), dan juga legitimasi (kurator/kritikus/kolektor) . Dalam konteks ini, banyak dari kita maklum bahwa perkara ini merupakan isu kekuasaan (politik seni) yang menjadi perhatian bukan saja di dalam konteks seni rupa kontemporer Malaysia namun sebenarnya telah menjadi isu yang sentral pada seni rupa internasional. Menurut saya, survival seni rupa kontemporer terutama yang melibatkan perupa generasi muda tidak ubah seperti satu wilayah pertarungan antara dua kelompok yaitu kelompok perupa (yang dikuasai) dan kelompok legitimasi (galeri, kolektor, dan kritikus) yang menguasai. Kedua-dua kelompok ini mau tidak mau menurut saya saling berhubungan secara timbal-balik dan jika salah satu dari ketiga aspek ini menampakkan gejala keterputusan, maka survival seni mula menghadapi krisis-krisis tertentu.

Seperti yang dibicarakan oleh Setiawan Sabana, yang merupakan salah seorang pengamat seni rupa kontemporer Asia Tenggara, bahwa dalam kebudayaan manusia selalu akan ada kecenderungan yang menjelma menjadi kekuasaan yang mengontrol dan dikontrol. Dalam hal ini, kesenian yang masuk sebagai bagian dari kebudayaan tidak terlepas dari proses tersebut. Sebab itu, kesenian juga mewarisi atau memiliki tabiat seperti diutarakan di muka, yakni tabiat berpolitik. Maknanya, kesenian berada dalam pergerakan dinamis dengan rekayasa kekuatan dan kekuasaan serta otoritasnya sehingga melahirkan pihak yang berkuasa dan pihak yang terkuasai, kaum mainstream dan kaum marjinal. Tetapi, karena tabiat kehidupan dalam konteks kesenian maka pergerakan dinamisnya senantiasa berupa pergulatan atau perjuangan seniman untuk diakui (eksis), perjuangannya untuk berada di wilayah mainstream, agar memiliki posisi sebagai seniman yang dicap berprestasi, bergengsi, terpandang dalam konteks perkembangan seni terdepan. Dalam konteks pelaku seninya, maka seniman muda cenderung dalam posisi berjuang keras untuk tampil atau eksis, mendapat pengakuan dari pihak-pihak yang sedang berada/berkuasa dalam wilayah mainstream tadi. Hal ini sebetulnya tidak saja berlaku dalam hal pelaku, tapi juga dalam aspek-aspek lainnya. Inilah esensi yang bagi saya merupakan apa yang sedang diperjuangkan oleh tiga pihak yang berperan penting dalam menggelar pameran Outerinter X ini.

Dalam konteks politik perupa muda Outerinter X (marjinal) vs. ThreesixtyARt Development Studio (mainstream), pameran ini sebenarnya telah membuka perspektif baru tentang hal bagaimana menemukan diplomasi antara bentuk alternatif vs. ruang mainstream. Hal negosiasi ini bukanlah pengetahuan yang didapatkan dari mata kuliah pendidikan tinggi seni rupa, namun untuk bisa tampil eksis, mau tidak mau kelompok ini berjaya bernegosiasi dengan cara mereka menampilkan karya-karya yang walaupun tidak sepenuhnya radikal namun tetap menjaga jarak dengan karya-karya konvensional. Strategi ini mungkin di pihak galeri dilihat sebagai satu bentuk penyegaran dengan situasi komodifikasi seni yang semakin mendominasi ruang-ruang privat mutakhir ini, dan di pihak perupa muda dilihat sebagai satu bentuk perlawanan kerja artistik di sela seli kembalinya fenomena kanvas dan kertas yang mendominasi setiap dinding institusi, stor koleksi, dan publikasi seni rupa.

Dalam konteks politik karya alternatif pameran Outerinter X (marjinal) vs. kurator/kolektor (mainstream), matrik-matrik makna dari kerja artistik yang dinegosiasikan pada pameran ini menurut pendapat saya akan menjadi sinyal penting pada survival karya-karya tipe ini di masa mendatang. Saya sadar bahwa semangat bermain para perupa ini sangat tidak dipengaruhi oleh sistem pasar seni rupa kontemporer kita saat ini, namun pada tingkat survival, faktor komodifikasi seni justru mau tidak mau harus juga ditantang sebagai hal yang akan mempengaruhi eksistensi karya-karya tipe ini di masa mendatang. Dalam fenomena komodifikasi seni yang dikuasai oleh pihak mainstream, sebuah pameran hanya akan bisa dilabel sebagai sukses dengan dua hal yaitu jika ia dikurasi oleh kurator, dan juga jika karya-karya yang dipamerkan dibeli oleh kolektor. Di pihak kuratorial, setidak-tidaknya pameran ini saya lihat telah sukses menerobos sesuatu yang baru di Threesixty ketika ia mampu dikurasi oleh kurator dan punya publikasi katalog, namun di pihak kolektor, pameran ini saya pikir akan menjadi tanda aras penting terhadap tingkat apresiasi terhadap kerja seni yang mereka sifatkan ‘non-konvensional’ ini.

Namun demikian, pameran ini jelas akan berdampak baik secara sosial terutama hubungannya dengan para mahasiswa seni rupa di pendidikan tinggi. Lima perupa ini yang merupakan ‘bekas abang-abang senior’ setidak-tidaknya akan memberi sedikit pencerahan terhadap potensi atau kemungkinan dimasukkan teknologi dalam karya seni terutama seni rupa. Pameran ini juga saya pikir akan menjadi stimulus bagi ditemukan respons estetik yang berpotensi di masa hadapan. Jika pameran ini disikapi oleh para mahasiswa seni rupa dengan baik dan kritis, mungkin akan muncul pertanyaan ulang tentang strategi berkesenian dalam menyangkut aspek kritisisme pada karya-karya seni rupa dalam akademi seni yang secara sadar atau mungkin separuh sadar telah ditunjang oleh mekanisme pengajaran dari prinsip-prinsip modernisme.


Selamat berjuang pada teman-teman!
Selamat berpameran, dan selamat menikmati pula pada apresiatornya.