Satu Catatan Mengenai Pameran Eye Candy : Feast Your Eyes
I
Kesenian, serta berbagai bentuk dan corak ungkapannya cenderung berbeza pada setiap kebudayaan, bahkan pada lapisan-lapisan sosial tertentu. Ini jelas ketika adanya cara, atau strategi tertentu yang digunakan oleh masyarakat bagi mengekspresikan diri melalui kesenian. Antara aspek yang menarik dari berbagai-macam cara penyampaian kesenian tersebut adalah dari kategori lapisan usia atau gender yang terdapat di masyarakat.
Pada akhir-akhir ini, para pengkarya muda kita cukup aktif berpameran (perseorangan atau berkumpulan). Pameran dari lapisan generasi ini juga kelihatannya silih berganti; dari satu ruang ke ruang lainnya akibat dari leluasa mendapatkan ruang dan peluang sehingga pada titik tertentu berlaku tumpang tindih oleh kerana masing-masing berusaha untuk mencapai visi seninya dalam usia seperti yang dikatakan oleh ramai ahli sebagai usia yang paling produktif. Yang jelas, tersirat bahawa dalam situasi seni rupa mutakhir ini, ‘siapa dia sebelumnya’ tidak lagi menjadi hal, melainkan ‘siapa dia sekarang’ yang nampaknya sungguh-sungguh menjadi perhatian, sejauh mampu memperlihatkan kesungguhan dan semangat.
Kali ini kita diperhadapkan dengan beberapa orang pengkarya (perempuan) yang berkeyakinan diri, dapat menghadirkan sejumlah karya yang sedia untuk dipertontonkan melalui pameran mereka yang dijudulkan sebagai “EYE CANDY: FEAST YOUR EYES”. Dikatakan oleh salah seorang dari mereka bahwa gagasan utama bagi pameran ini bukanlah untuk memikul ‘muatan yang berat’, bukan juga suatu pemaksaan untuk hal-hal yang kompleks, melainkan ingin menyuarakan hal-hal yang sederhana tanpa perlu memaksakan sesuatu yang sifatnya ‘mengerutkan dahi’.
Bersesuaian dengan judul pameran ini, mungkin di celah-celah cara pandang seni yang sering diidentitikan dengan perjuangan dan persaingan yang kental kaitannya dengan ciri-ciri maskulin, seni juga dapat dipandang sebagai suatu ciri khas yang bersifat feminin. Dengan bertitik tolak dari pernyataan tersebutlah maka pameran ini akan cuba dibaca.
II
Tubuh adalah suatu wujud yang sangat holistik kerana tubuh bukan hanya bertalian dengan masalah biologis-fisik, melainkan berkaitan dengan masalah psikologis; bukan hanya sesuatu yang kompleks, tetapi juga sesuatu yang sederhana; bukan hanya berhubungan dengan masalah abstrak, tetapi juga berkaitan dengan masalah sosial-budaya.Yang jelas, tubuh sebagai wujud yang fundamental bagi manusia itulah yang kemudian banyak pihak mendefinisikannya menurut pemahaman dan pendekatan tertentu. Esensi inilah antara yang dapat saya garisbawahi ketika melihat beberapa karya-karya dari Mohana Kumara Velu (b.1988), Nadia Zawani (b.1986), Mia Farizza (b.1986), Aznizah Elah (b.1986), Tan See Ling (b. 1976), dan Adibah Nadiah (b. 1986), Sharifah Firdus (b. 1983).
Sungguh jarang kita menyaksikan hasil karya dari perupa perempuan dari etnik India. Kali ini kita berpeluang untuk meyerap ekspresi seni dari etnik ini, terutama pada karya-karya Mohana. Kuat dengan aspek naratif, salah satu karya Mona menampilkan sosok tubuh perempuan tanpa pakaian dengan wajah memandang ke samping yang identitinya sulit dikenali. Dengan warna yang cenderung gelap dan kusam, tokoh di dalam karya Mohana ini kelihatan tenang, diam, dan seolah-olah sedang merenungkan sesuatu.
Pada hemat saya, secara simbolik karya Mohana cuba membentangkan dualisme ‘ideal versus real’ yang dihadapi oleh kebanyakan perempuan zaman ini. Di satu segi, perempuan pada hari ini cukup menantang ketika mampu bersaing dengan yakin di dalam banyak lapangan kehidupan, seperti yang kelihatan pada visual wajah perempuan modern pada karyanya. Sebaliknya, di sisi lain, perempuan juga dibelenggu oleh nilai-nilai sosial-budaya yang menuntutnya supaya merenung ke akarnya yang mencitrakan perempuan sebagai anak, isteri, ibu, dan sebagainya. Tapi yang pasti, dari sudut pandang kebudayaan, perempuan sering dikatakan sebagai ‘jenis senyap’ yaitu sentiasa menghadapi tuntutan hidupnya dengan tenang, dan privasi, walaupun kadangkala dipaksakan untuk bisu.
Karya-karya Nadia Zawani cukup mudah untuk memancing perhatian terutama rupa bentuk (format) bintangnya yang memperlihatkan satu upaya untuk mengambil jarak dengan kerangka konvensional walaupun tetap menjaga batas agar tidak sepenuhnya terkeluar. Selain itu, karya ini juga didominasi dengan warna-warna yang terang dan hiasan manik yang berkilat. Dari pengamatan saya, karya Nadia dapat dipahami sebagai suatu bentuk penyataan hasrat, yakni hasrat dasar manusia untuk menyatakan diri sebagai perempuan (berhias tubuh), namun masih berpegang teguh pada kerangka yang dibentuk oleh keyakinan tertentu yang diyakini.
Imej-imej dasar laut yang distilasikan dan dimanipulasikan dengan penuh ceria itu cukup merefleksikan kenyataan bahwa dalam zaman sekarang ini, nilai-nilai moral dari tubuh manusia umumnya, dan perempuan khususnya, telah bergeser ke hal-hal yang bersifat estetis. Seperti yang dijelaskan Synott, dalam masyarakat komsumsi sekarang ini, keadaan dalaman manusia memang dikawal oleh tubuhnya. Hal ini dapat dikatakan terbalik dengan masyarakat tradisional yang belum memahami budaya konsumerisme. Dalam konteks tersebut, format bintang yang dihasilkan oleh Nadia secara simbolik menyuarakan suasana hatinya yang ingin mencadangkan bahwa nilai-nilai estetik yang dipengaruhi oleh sistem kapitalisme itu, kalaupun disambut, haruslah juga dibatasi dengan nilai-nilai moral misalnya agama yang tercermin secara sadar atau tidak dalam simbol bintang yang digunakannya.
Tubuh dalam karya Mia bukanlah suatu kehadiran visual, melainkan dapat dianggap sebagai pengeluaran energi tubuh. Walaupun tidak menghadirkan visual tubuh, namun kekuatan karya Mia terletak pada bagaimana dia mengolah hal-hal tersebut melalui tekniknya yang khas. Dari pengamatan saya, kesan-kesan pusaran yang diekspresikan keluar dari perasaannya itu adalah teknik bahasa tubuh (tangan, mulut, dsb). Saya cenderung melihat karya Mia sebagai suatu ekspresi bahasa dari tubuh, dalam pengertian tubuh mengekspresikan dirinya dalam vokalisasi visual.
Semua bahasa, pada dasarnya merupakan pengembangan bahasa fundamental, yaitu bahasa tubuh, sehingga dikenal ungkapan yang sering kita dengar iaitu ‘bahasa tubuh’. Melalui bahasa, manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain dan juga dirinya sendiri, dan bahasa itu diungkapkan melalui bahagian tubuh, iaitu mulut. Tanpa tubuh (mulut), manusia tidak bisa berbuat sesuatu, khususnya dalam hal komunikasi, baik dengan alam, sesama manusia, atau dengan dirinya sendiri. Begitu juga Mia.
Kenikmatan menjadi tema bagi karya-karya Aznizah. Menghadirkan objek makanan dari budaya popular (donut) dengan warna-warna terang dan lembut, beliau cuba menegaskan bahawa antara salah satu aspek dari kehidupan kontemporari adalah ketika manusia dikelilingi oleh rangsangan-rangsangan yang mengghairahkan, sehingga ia seringkali tidak lepas dari unsur ketegangan yang menuntut adanya suatu bentuk pemuasan terhadap keperluan mendasar yaitu tubuh (fisik-biologis-psikologis). Seperti yang sedia maklum, makanan merupakan hal yang mendasar bagi menjamin dan mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Secara budaya, makanan harus dikelola terlebih dahulu menyangkut bahannya, isinya (gizi), wujudnya, bentuknya, baunya, rasanya, kemasannya, dan penyajiannya agar memenuhi keperluan tubuh manusia yang semestinya, serta menarik, menyenangkan, membangkitkan selera, dan memberi kenikmatan kepada penikmatnya.
Namun demikian, dari sisi psikoanalisis, karya ini dapat juga dianggap sebagai suatu bentuk kenikmatan pada diri beliau sendiri, sesuai dengan usianya yang penuh dengan ketegangan. Dari sudut pandang Freudian misalnya, berkesenian memberi kesempatan bagi manusia untuk melepaskan dorongan libidonya bertransformasi melalui proses sublimasi. Melalui sublimasi, yang salah satu darinya merupakan kesenian, rangsangan-rangsangan bertransformasi dalam suatu proses semacam sexual orgasm dalam bentuk yang bernilai melalui tapisan sosial dan budaya. Pencapaian kenikmatan ini disebut juga katarsis, iaitu pelepasan emosi sehingga menyebabkan orang menjadi lega.
Tan See Ling pula cuba bermain-main dengan fantasinya. Tubuh perempuan yang dihadirkannya bukanlah tubuh yang nyata, melainkan tubuh imaginatif. Dengan karektor anak kecil bertelinga panjang seperti arnab, tiada mulut, dan mata yang penuh rasa curiga, karya-karya itu terlihat lucu. Dari kebanyakan karya itu, Alice tidak keseorangan, melainkan berpasangan dengan haiwan layaknya seekor anjing. Bersama-sama anjing tersebut, Alice meneroka daerah-daerah kebebasan dan impian seperti yang dijelaskan See Ling bahwa visual tersebut dikutipnya dari mimpi-mimpi waktu kecilnya.
Dari perspektif strukturalisme Saussure, hubungan sosok anjing yang tampil di dalam teks mampu disebut sebagai hubungan dari pasangan yang berlawanan (binary opposition). Dengan demikian, anjing pada karya-karya See Ling dapat dicermati sebagai suatu watak atau tokoh yang melekat dari zaman kecilnya sehingga ia kembali muncul pada masa ini. Tokoh-tokoh ini boleh saja teman rapat, idola, atau pun tokoh imaginer yang diciptakan bagi memenuhi tuntutan hidupnya di mana lalu. Apa pun yang mendasari tokoh tersebut, yang nyata adalah bahawa pengalaman-pengalaman silam yang mendap dalam diri See Ling itu kadang kala muncul ke permukaan dan berpengaruh terhadap kehidupannya, terutama muncul sebagai visualisasi di dalam karya seninya.
Sebagai salah satu produk budaya-tradisi, memang tidak dapat dinafikan pengaruh batik terhadap tubuh perempuan. Digunakan dengan berbagai tujuan, batik telah masuk dan menyertai kebudayaan Nusantara dalam berbagai fungsi, bentuk, dan corak. Namun demikian, dilihat dari perubahan kebudayaan, batik sebagai sarana tubuh, mahu tidak mahu harus rela digeser dengan perubahan dan mampu memperbetulkan diri agar mampu dipertahankan, dikritik, atau ditolak. Karya Aznizah sedikit sebanyak mengandungi gagasan tersebut. Dilihat dari sisi visualnya, karya Aznizah jelas mengambil corak batik, dan dengan bebas mengolahnya menjadi corak-corak, atau kalau pun tidak, warna-warna yang mewakili generasi pada zamannya walaupun dipahami bahawa generasi terdahulu dengan gagah membangun corak dan warna setiap dari produk kebudayaan, tinggal kita mewarisinya (jika mahu) sebagai pusaka; dan ternyata Aznizah bijak memanfaatkannya, bahkan pada akhirnya digarapkan di dalam pemahaman yang baru pula.
Menghadirkan makanan sebagai medium berekspresi seni masih boleh dikatakan sesuatu yang tidak lazim dan asing bagi wilayah seni rupa Malaysia, walaupun dalam kenyataan terdapat percubaan-percubaan terdahulu untuk menggunakan makanan sebagai bahagian dari happening atau seni pertunjukan. Dalam wacana perkembangan seni rupa, terutama yang berkaitan karya-karya yang menggunakan makanan sebagai medium, karya-karya Syarifah Firdus ini boleh dikategorikan sebagai karya ‘edible art’ atau dengan kata lainnya, ‘seni yang boleh dimakan’. Aneh, tapi itulah yang menjadi fokus dan perjuangan Firdus dalam pameran ini, yaitu menyajikan kepada kita terus dari ketuhar rumahnya beberapa karya dalam bentuk kek ulang tahun!
Dibentuk dengan aturan-aturan khusus dari disiplin ‘pastry’, karya beliau ini jelas menampakkan keghairahannya bermain-main dengan warna, tekstur, dan ornamen-ornamen yang memancing perhatian sesiapa saja yang melihatnya. Dari pemahaman saya, karya Firdus pertama-tama dapat dibaca sebagai upayanya untuk mencabar idealnya ‘seni halus’ dari sisi otonomi, jenius, sempurna, dan nilai yang kekal lama. Dalam pengertian ini, tampak Firdus ingin melepaskan dirinya dari ‘aturan cita rasa’ (the rule of taste) yang bersifat konvensional, dan menggantikannya dengan tradisi cita rasa artistik ‘objek mari rasa’.
Kedua, dari sisi simbolik, karya-karya ini dapat juga dipahami sebagai sarana simbolik Firdus terhadap politik tubuh, iaitu tubuh (perempuan) sebagai keterbatasan. Keterbatasan tubuh manusia pada umumnya, dan pada perempuan khususnya memang tak terelakkan karena ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan penyakit atau bencana alam. Namun, yang lebih parah ketika keterbatasan ini datangnya dari kesalahfahaman akibat dari dorongan-dorongan fundamental yang tak terpuaskan, sehingga ia terpaksa berhadapan langsung dengan saat-saat paling cemas dalam hidupnya.
III
Saya tidak bermaksud ingin menyimpulkan apa-apa dari pameran ini, dengan catatan ingin memberikan ruang, dan sebarang kemungkinan pada publik untuk menginterpretasikannya menurut pemahamannya masing-masing. Dari padangan peribadi yang saya sifatkan sebagai sederhana, pameran ini jelas memperlihatkan satu kecenderungan baru untuk mengelompok dari perupa perempuan kita terutama yang di dasarkan pada kesatuan umur yang relatif muda. Namun demikian, dari segi hal yang lain tampak juga menonjolnya semangat-semangat individualisme dari kalangan mereka ini yang dapat dikatakan sangat beragam terutama jelas pada gagasan yang dianut, proses penciptaan, atau dalam karya seni.
Hal sedemikian bukanlah sesuatu yang asing lagi pada medan sosial seni rupa kita. Memang antara satu ciri kentalnya modernisme adalah mengelompok itu juga pada saatnya memunculkan kekuatan individu. Semangat individualismelah yang ternyata merupakan dorongan mengelompok. Keinginan-keinginan untuk mengukuhkan, atau katakanlah menokohkan diri sendiri memberi warna terhadap rapuhnya ikatan kelompok. Kelompok-kelompok pada seniman modern sedemikian goyahnya, mereka berkelompok sepanjang hal tersebut memberi keuntungan dirinya sendiri, dan mereka bubar apabila kelompok dianggap sudah tidak menguntungkan dirinya sendiri, untuk kemudiannya membentuk kelompok baru.
SELAMAT BERPAMERAN SEMUA!
Selamat berkarya dan selamat menikmati pula pada para kolektor dan apresiatornya.
Salam.
Issarezal Ismail
Bandung, Indonesia, 2010
Catatan:
1. Rohidi, T.R. (2000): Ekspresi Seni Orang Miskin: Adaptasi Simbolik Terhadap Kemiskinan. Bandung: Penerbit Nuansa.
2. Rohidi, T.R. (2000): Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: Penerbit STISI.
3. Badhick, B. (2006): Wacana Tubuh Perempuan. Dalam Jurnal Wacana Perempuan Driyarkara No.3/2006. Supelli, K. (eds.). Jakarta: STF Driyarkara.
4. Saidi, A. I. (2007): Narasi Simbolik Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Yogyakarta: Isacbook.




